Minggu, 10 April 2016

http://makalahpemikiranIbnuSina.com




Pemikiran Tokoh Ibnu Sina
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Mahfud Junaidi, M.Ag

                                                                                  
                                               Disusun Oleh :        
Nama  : R.A Elok Husna Irfaniya        
NIM    :  1403036085
Jurusan:Manajemen Pendidikan Islam 2C

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015


















                               I.            PENDAHULUAN
Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tetapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu-satunya filosof besar islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad.
Pengaruh ini terwujud bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia miliki itu menampakkan keasliannya yang menunjukkan jenis jiwa yang jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam.
                                     
                            II.            RUMUSAN MASALAH
1.      Siapakah Ibnu Sina ?
2.      Apa saja karya-karya yang dihasilkan oleh Ibnu Sina?
3.      Apa saja pemikiran filsafat yang dikemukakan oleh Ibnu Sina?
4.      Apa saja konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Ibnu Sina?

                         III.            PEMBAHASAN
A.    Biografi Ibnu Sina(370-428 H=980-1036 M)
Nama lengkapnya Abu ‘Ali Al Husein bin Abdullah bin Al-Hasan bin ‘bin Sina. Ia dilahirkan di desa Afsyanah, dekat Bukhara tahun 370 H(980 M). Ayahnya berasal dari kota Balakh kemudian pindah ke Bukhara pada masa Raja Nuh bin Manshur. Ayahnya diangkat Raja Nuh bin Manshur menjadi penguasa kota Khairmaitsan, satu kota dari daerah Bukhara. Di sini ia kawin dengan seorang wanita yang tidak berapa jauh dari kota Khairmaitsan yang bernama Sattarah dan mendapat anak 3 orang yaitu: Ali, Husein dan Muhammad, berarti Ibnu Sina anak kedua. Ibnu Sina seorang pintar yang sulit dicari imbangannya. Sejak kecilnya telah menonjol kepintarannya. Di antaranya ia telah hafal Al-Qur’an dalam usia dibawah 10 tahun.[1]
Ibnu Sina mempelajari beberapa bidang ilmu pengetahuan, antara lain[2]:
1.      Ilmu-ilmu Agama
Dimulainya belajar Al-Qur’an pada tahun 375 H, sewaktu umur 5 tahun. Kemudian terus mempelajari ilmu-ilmu islam yang lainnya seperti tafsir, fiqih, ushuluddin, tasawuf dan lainnya.[3]
2.      Ilmu-ilmu filsafat
Setelah umurnya mencapai 10 tahun dia sudah menguasai ilmu-ilmu agama, ayahnya mulai menyuruh belajar ilmu filsafah dengan segala cabangnya. Dia di suruh belajar kepada saudagar rempah-rempah untuk mempelajari ilmu hitung india.[4]
3.      Ilmu Politik
Tidak kurang pentingnya untuk diketahui, bahwa ilmu politik sudah diperkenankan kepada Ibnu Sina pada umur mudanya. Ayahnya adalah tokoh terkemuka dari aliran “Isma’iliyah” dari partai syi’ah. Pada waktu itu pemimpin propogandis aliran tersebut yang berpusat di Mesir di bawah pimpinan Fathimiyah, sering kali berkunjung dan berunding dengan ayahnya, untuk meluaskan sayap partai itu ke daerah Bukhara. Ibnu Sina selalu disuruh duduk mendengarkan segala uraian politik mereka. Saudaranya Abdul harist mengikuti aliran ayahnya, menjadi pengikut yang setia dari partai isma’iliyyah, tetapi Ibnu Sina tidak pernah tertarik dengan aliran itu. [5]
4.      Ilmu Kedokteran
Di dalam tingkat terakhir, Ibnu Sina tertarik pada ilmu kedokteran. Dia mempelajari ilmu itu sewaktu umurnya 16 tahun, dan dalam waktu 18 bulan(satu  setengah tahun)selesailah ilmu itu ia kuasainya. Sewaktu berumur 17 tahun ia telah di kenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati pangeran Nuh ibn Mansur sehingga pilih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibnu Sina mendapat sambutan baik sekali, dan dapat pula mengunjungi perpustakaan yang penuh dengan buku-buku yang sukar didapat, kemudian dibacanya dengan segala keasyikan. Karena seseuatu hal, perpustakaan tersebut terbakar, maka tuduhan orang ditimpakan kepadanya, bahwa ia sengaja membakarnya, agara orang lain tidak bias lagi mengambil manfaat dari perpustakaan itu.[6]
Di antara  failosuf Arab yang termasyhur di Barat ialah Ibnu Sina mereka menamakannya dengan Avicenna, dan disebut mereka juga dengan “Aristoteles Baru”. Beliau menjadi guru filsafat medisin di Isfahan(persi). Pada akhir hayatnya ia berangkat ke Ashafan,kemudian meninggal di Hamadzan pada tahun 428 H (1037 M), dalam usia 57  tahun.[7]
B.     Karya-karya Ibnu Sina
Pada usia 20 tahun ia telah menghasilkan karya-karya cemerlang, dan tidak heran kalau ia menghasilkan 267 karangan di antara karangannya yang terpenting adalah[8]:
Al-Syifa’, latinnya Sanatio (penyembuhan), ensiklopedi yang terdiri dari 18 jilid mengenai fisika, metafisika dan matematika. Kitab ini ditulis ketika menjadiMentri di Syams al-Daulah dan selesai masa ala’ul al-Daulah di Isfahan.
Al-Najah, latinnya Salus (penyelamat) , keringkasan dari As-Syifa’.
Al- Al-Qonun fi al-tibb, Ensiklopedi medis dan setelah diterjemahkan dalam bahasa Latin menjadi buku pedoman pada Universitas-universitas di Eropa sampa abad XVII.
Isyaroh wa al-tanbiyhah (isyarat dan peringatan), mengenai logika dan hikmah.
Al-Hikmah al-‘Arudhiyyah.
Hidayah al-Rais li al-Amir.           
Risalah fi al-Kalam ala al-Nafs al-Nathiyah.
Al-mantiq al-Masyriqiyyin (logika timur).
C.    Pemikiran Filsafat Ibnu Sina
1.      Metafisika
Pemikiran metafisika Ibnu Sina bertitik tolak pada pandangan filsafatnya yang terbagi tiga jenis, Yaitu
a.       Penting dalam dirinya sendiri, tidak perlu kepada sebab lain untuk kejadiannya, selain dirinya sendiri yaitu Tuhan.
b.      Berkehendak kepada orang lain, yaitu mahluk yang butuh kepada yang menjadikannya.
c.       Mahluk mungkin, yaitu bisa ada bisa pula tidak ada dan ia sendiri tidak butuh kepada kejadiannya maksudnya benda-benda yang tidak berakal seperti air, batu , api dan lain-lain.[9]
2.      Hukum Sebab Musabbab
Tuhan adalah sebab efesien dari alam, tidak perlu didahului oleh waktu. Dengan kata lain Ibnu Sina memandang antara sebab dan akibat, walaupun bagaimana sebab itu, datang juga dari sebab. Tuhan sebagai sebab, bertindak dalam alam yang bergerak terus menerus dalam wujudnya, yang adalah sebagai sebab dirinya sendiri tau dibutuhkan oleh yang lain.[10]
3.      Tuhan Maha Mengatur dan Maha Tahu
Devinisi tetntang Tuhan yang Maha Tahu diterangkan Ibnu Sina dalam kitabnya Al-Isyarat sebagai berikut: “Maha Tahu adalah perwakilan dalam alam semesta, dalam pengetahuan abadi dalam suatu waktu tertentu”. Undang pelimpahan Tuhan dalam bentuk       hirarki dan kekhususan adalah dengan pelimpahan rasionil. Keterangan yang berupa undang alam seperti tersebut di atas menyebabkan orang dapat melihat bagaimana Ibnu Sina menguraikan tentang sifat maha Tuhan dan mengenai baik dan buruk. Tampaknya dalam bentuk yang demikian itu, orang akan merasa psimis, dan memberikan uraiannya bahwa antara baik dan buruk, baiklah yang akan menang. Oleh karena itu ia menyempurnakan wujudnya.[11]
4.      Akal
Ibnu Sina merumuskan bahwa akal merupakan suatu kekuatan yang terdapat dalam jiwa. Menurut Ibnu Sina ada dua macam akal yaitu akal manusia dan akal aktif. Semua pemikiran yang muncul dari manusia itu sendiri untuk mencari kebenaran disebut akal manusia yang medatang kedalam akal manusia dari limpahan ilham ketuhanan.[12]
5.      Emanasi
Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga menganut teori faidh (emanasi). Bagi Ibnu Sina, Tuhan sebagai akal murni memancarkan akal pertama. Ta’aqqul akal pertama memancarkan akal kedua, falakul aqsha (langit menjauh) dan jiwa falaq tersebut selanjutnya ta’aqqul akal kedua memancarkan akal pertama, falakuts tsawabit dan jiwanya. Demikian ta’aqqul dari akal-akal itu secara berkesinambungan hingga sampai pada akal yang kesepuluh dan bumi. Dari akal kesepuluh yng disebut akal fa’al. Tetapi ia mempunyai perbedaan-perbedaan yang prinsipil.[13]
6.      Jiwa
Di dalam masalah kejiwaan, Ibnu Sina termasuk penganut paham dualisme(tsanawiyah). Bagi Ibnu Sina subtansi jiwa itu berlainan sama sekali dari materi tubuh meskipun dia berasal dari pokok yang sama. Yakni akal fa’al. Tetapi ia mempunyai perbedaan-perbedaan yang prinsipil.[14]
7.      Teori Kenabian
Sebagaimana yang tertulis diatas, bahwa akal itu bertingkat-tingkat. Tingkat pertama ialah akal potensial. Kadang-kadang seorang manuasia diberi kadar akal potensial yang besar sehingga itu ia dapat secara langsung berhubungan dengan akal fa’al tanpa melalui latihan-latihan. [15]
Akal mempunyai  kemampuan demikian oleh Ibnu Sina disebut dengan akal kudus (roh suci)yang merupakan taraf tertinggi yang dapat dicapai oleh seseorang. Bila taraf ini bisa dicapai oleh seseorang, Bila taraf ini telah bisa dicapai oleh seseorang, terbukalah baginya ilmu rabbani.[16]
D.    Konsep Pendidikan Menurut Ibnu Sina
Konsep Pendidikan Ibnu Sina adalah:
Sebagai suatu sistem, pendidikan memiliki berbagai aspek yang antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan, yaitu aspek tujuan pendidikan, kurikulum, metode guru, hukuman dan lingkungan. Pada bagian ini akan dikemukakan konsep pendidikan Ibnu Sina yang ruang lingkupnya dibatasi pada aspek  tujuan pendidikan, kurikulum, guru yang baik, metode pengajaran, dan pelaksanaan pada aspek-aspek tersebut, didasarkan pada pemikiran pendidikan yang terdapat pada Ibnu Sina itu sendiri.[17]
Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Sina 
tujuan pendidikan adalah mengarahkan pertumbuhan individu baik dari segi jasmani maupun rohaninya secara sempurna. Selain itu, menurutnya bahwa pendidikan juga bertujuan mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat dan berinteraksi dengannya melalui pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya. Untuk itu lingkup kependidikan dalam pandangan Ibnu Sina meliputi bidang pembinaan, jasmani melalui olah raga, melatih makan, minum dan sebagainya secara teratur dan menjaga. Dan rohani dengan kata lain tujuannya lebih mengarah kepada mencerdaskan akal serta semua unsur yang terkait di dalamnya.[18]
Kurikulum              
Ibnu Sina melihat kurikulum lebih merupakan rancangan pengajaran, sebagai unsur terpenting dalam kurikulum itu sendiri. Rancangan pengajaran ini ia hubungkan dengan tingkat usia anak didik yang akan menerima pelajaran tersebut. Untuk ini Ibnu Sina membagi kurikulum kedalam tingkatan usia sebagai berikut:[19]
1. Kurikulum Untuk Usia Anak 3 sampai 5 tahun
Ibnu Sina berpendapat bahwa seorang anak yang berada dalam usia 3 sampai 5 tahun harus diajarkan ilmu-ilmu yang sejalan dengan pertumbuhan panca indra, gerak badan, budi pekerti dan perasaan. Pelajaran gerak badan atau olah raga tersebut diarahkan untuk membina pertumbuhan fisiknya, sedangkan pendidikan budi pekerti diarahkan untuk membiasakan si anak agar memiliki sopan santun dalam pergaulan hidupnya sehari-hari.[20]
2. Kurikulum Untuk Usia Anak 6 sampai 14 tahun.
Kurikulum untuk anak usia 6 sampai 14 tahun atau usia sekolah dasar ini menurut Ibnu Sina terdiri dari:
 1) Pelajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an,
2) Pelajaran agama,    
3) Pelajaran bahasa Arab,
4) Pelajaran sya’ir, dan
5) Pelajaran agama.[21]
3. Kurikulum Untuk Anak Usia 14 tahun Ke Atas
Berkenaan dengan kurikulum untuk anak usia 14 tahun ke atas ini, Ibnu Sina mengatakan sebagai berikut:
“Jika seorang anak telah selesai mempelajari Al-Qur’an dan menghafal dasar-dasar bahasa, maka segera dipikirkan tertang keahlian yang akan ditekuninya. Guru menunjukan pula cara untuk menempuh keahlian tersebut, setelah mempertimbangkan dengan matang tentang keahlian yang sesuai dengan bakal minatnya”[22]
4. Mata Pelajaran dalam Kurikulum
Ibnu Sina selanjutnya membagi pelajaran kepada yang bersifat teoritis dan pelajaran yang bersifat praktis atau pengetahuan terapan.
a. Mata Pelajaran Yang Bersifat Teoritis
Menurut Ibnu Sina mata pelajaran yang bersifat teoritis dapat di bagi tiga lagi yaitu:
1) Ilmu tabi’i yang dikatagorikan sebagai ilmu yang berada pada urutan yang di bawah.
2) Ilmu matematika yang ditempatkan pada urutan pertengahan
3) Ilmu ketuhanan yang ditempatkan sebagai urutan yang paling tinggi[23]
b. Mata Pelajaran yang Bersifat Praktis
 Mata pelajaran yang bersifat praktis itu terbagi kepada tiga bagian.
Bagian pertama terdiri dari ilmu yang bertujuan membentuk akhlak dan perbuatan manusia yang mulia, sehingga dapat mengantarkan kepada kebahagiaannya hidup di dunia dan akhirat.[24]
Bagian kedua terdiri dari ilmu yang berupaya menjelaskan tentang tata cara mengatur kehidupan rumah tangga serta pola hubungan yang baik antara suami istri, orang tua dengan anak-anaknya, majikan dengan para pembantunya. [25]
Bagian ketiga ilmu yang mempelajari tentang politik, pimpinan, negara dan masyarakat yang utama atau sebaliknya.[26]
Metode Pengajaran
Konsep metode yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain terlihat pada setiap materi pelajaran. Dalam setiap pembahasan materi pelajaran Ibnu Sina selalu membicarakan tentang cara mengajarkan kepada anak didik. Berdasarkan pertimbangan psikologinya, Ibnu Sina berpendapat bahwa suatu materi pelajaran tertentu tidak akan dapat dijelaskan kepada bermacam-macam anak didik dengan satu cara saja, melainkan harus dicapai dengan berbagai cara sesuai dengan perkembangan psikologisnya.[27]
Penyampaian materi pelajaran pada anak menurutnya harus disesuaikan dengan sifat dari materi pelajaran tersebut, sehingga antara metode dengan materi yang diajarkan tidak akan kehilangan daya relevansinya. Metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain metode talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi magang, dan penugasan.[28]
Yang dimaksud dengan metode talqin dalam cara kerjanya digunakan untuk mengajarkan membaca al-qur’an, dimulai dengan cara memperdengerkan bacaan al-qur’an kepada anak didik sebagian demi sebagian. Setelah itu anak tersebut disuruh mendengarkan dan disuruh mengulangi bacaan tersebut perlahan-lahan dan dilakukan berulang-ulang hingga hafal. Cara seperti ini dalam ilmu pendidikan modern dikenal dengan nama tutor sebaya, sebagaimana dikenal dalam pengajaran dengan modul.[29]
Selanjutnya mengenai metode demontrasi menurut Ibnu Sina dapat digunakan dalam cara mengajar menulis. Menurutnya jika seorang guru akan mempergunakan metode tersebut, maka terlebih dahulu ia mencontohkan tulisan huruf hijaiyah di hadapan murid-muriodnya. Setelah itu barulah menyuruh para murid untuk mendengarkan ucapan huruf-huruf hijaiyyah sesuai dengan makhrajnya dan dilanjutkan dengan mendemonstrasikan cara menulisnya.[30]
Berkenaan dengan metode pembiasaan dan teladan, Ibnu Sina mengatakan bahwa pembiasaan adalah termasuk salah satu metode pengajaran yang paling efektif, khususnya dalam mengajarkan akhlak. Cara tersebut secara umum dilakukan dengan pembiasaan dan teladan yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa si anak, sebagaimana hal ini telah disinggung pada uraian diatas.[31]
Selanjutnya metode diskusi dapat dilakukan dengan cara penyajian pelajaran dimana siswa dihadapkan pada suatu masalah yang dapat berupa pertanyaan yang bersifat problematic untuk dibahas dan dipecahkan bersama.[32]
Berkenaan dengan metode magang, Ibnu Sina telah menggunakan metode ini dalam kegiatan pengajaran yang dilakukannya. Para murid Ibnu Sina yang mempelajari ilmu kedokteran dianjurkan agar menggabungkan teori dan praktek. Yaitu satu hari diruang kelas untuk mempelajari teori dan hari berikutnya mempraktekan teori tersebut dirumah sakit atau balai kesehatan.[33]
Selanjutnya berkenaan dengan metode penugasan adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Dalam bahasa arab pengajaran dengan penugasan ini dikenal dnegan istilah at-ta’iim bi al-marasil ( pengajaran dengan mengirimkan sejumlah naskah atau modul ).[34]
Dalam keseluruhan uraian mengenai metode pengajaran tersebut diatas terdapat empat ciri penting, yakni:[35]
1.      uraian tentang berbagai metode tersebut memperlihatkan adanya keinginan yang besar dari ibnu sina terhadap keberhasilan pengajaran.
2.      setiap metode yang ditawarkannya selalu dilihat dalam presfektif kesesuaiannya dengan bidang studi yang diajarkannya serta tingkat usia peserta didik.
3.      metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina juga selalu memperhatikan minat dan bakat si anak didik.
4.      metode yang ditawarkan ibnu Sina telah mencakup pengajaran yang menyeluruh mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan tingka perguruan tinggi.
Ciri-ciri metode tersebut hingga sekarang masih banyak digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu Sina dalam bidang metode pengajaran masih relevan dengan tuntutan zaman.[36]
Konsep Guru.
Konsep guru yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain berkisar tentang guru yang baik. Dalam hubungan ini Ibnu Sina mengatakan bahwa guru yang baik adalah berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akh;ak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main dihadapan muridnya, tidak bermuka masam, sopan santun, dan suci murni.[37]
Lebih lanjut Ibnu Sina menambahkan bahwa seorang guru itu sebaiknya darikaum pria yang terhormat dan menonjol budi pekertinya, cerdas, teliti, sabar, telaten dalam membingbing anak-anak, adil, hemat dalam penggunaan waktu, gemar bergaul dengan anak-anak dll.[38]
Berkenaan dengan tugas pendidikan, maka tugas seorang guru tidaklah mudah. Sebab pada hakekatnya tugas pendidikan yang utama adalah membentuk perkembangan anak dan membiasakan kebiasaan yang baik dan sifat-sifat yang baik menjadi faktor utama guna mencapai kebahagiaan anak, oleh karena itu orang yang ditiru hendaklah menjadi pemimpin yang baik, contoh yang bagus dan berakhlak hingga tidak meninggalkan kesan buruk dalam jiwa anak yang menirunya.[39]
Jika diamati secara seksama, tampak bahwa potret guru yang dikehendaki Ibnu Sina adalah guru yang lebih lengkap dari potret guru yang dikemukakan para ahli sebelumnya. Dalam pendapatnya itu Ibnu Sina selain menekankan unsur kompetensi atau kecakapan dalam mengajar, juga berkepribadian yang baik. Dengan kompetensi itu, seorang guru akan dapat mencerdaskan anak didiknya dengan berbagai pengetahuan yang diajarkannya, dan dengan akhlak ia dapat membina mental dan akhlak anak.[40]

Konsep Hukuman dalam Pengajaran
Ibnu Sina pada dasarnya tidak berkenan menggunakan hukuman dalam kegiatan pengajaran. Hal ini didasarkan pada sikapnya yang sangat menghargai martabat manusia. Namun dalam keadaan terpaksa hukumanm dapat dilakukan dengan cara yang amat hati-hati. Ibnu Sina menyadari sepenuhnya, bahwa manusia memiliki naluri yang selalu ingin disayang, tidak suka diperlakukan kasar dan lebih suka diperlakukan halus. Atas dasar pandangan kemanusiaan inilah maka Ibnu Sina sangat membatasi pelaksanaan hukuman.[41]
Penggunaan-penggunaan bantuan tangan adalah pembantu paling diandalkan dan merupakan seni bagi seorang pendidik. Dengan ada control secara terus-menerus, maka mendidik anak dapat diawasi dan diarahkan sesuai dengan tujuan pendidikan.[42]
Ibnu Sina membolehkan pelaksanaan hukuman dengan cara yang ekstra hati-hati, dan hal itu hanya boleh dilakukan dalam keadaan terpaksa atau tidak normal. Sedangkan dalam keadaan normal, hukuman tidak boleh dilakukan. Sikap humanistic ini sangat sejalan dengan alam demokrasi yang menuntut keadilan, kemanusiaan, kesederajatan, dan sebagainya.[43]
                         IV.            KESIMPULAN
Ibnu Sina mempunyai Nama lengkap yaitu Abu ‘Ali Al Husein bin Abdullah bin Al-Hasan bin ‘bin Sina. Ia dilahirkan di desa Afsyanah, dekat Bukhara tahun 370 H(980 M). Di antara  failosuf Arab yang termasyhur di Barat ialah Ibnu Sina mereka menamakannya dengan Avicenna, dan disebut mereka juga dengan “Aristoteles Baru”. Beliau menjadi guru filsafat medisin di Isfahan(persi).
Diantara karya dari Ibnu Sina yang terpenting adalah
Al-Syifa’, latinnya Sanatio (penyembuhan), ensiklopedi yang terdiri dari 18 jilid mengenai fisika, metafisika dan matematika. Kitab ini ditulis ketika menjadiMentri di Syams al-Daulah dan selesai masa ala’ul al-Daulah di Isfahan.
Al-Najah, latinnya Salus (penyelamat) , keringkasan dari As-Syifa’.
Al-Isyaroh wa al-tanbiyhah (isyarat dan peringatan), mengenai logika dan hikmah.
Al-Qonun fi al-tibb, Ensiklopedi medis dan setelah diterjemahkan dalam bahasa Latin menjadi buku pedoman pada Universitas-universitas di Eropa sampa abad XVII
Al-Hikmah al-‘Arudhiyyah
Hidayah al-Rais li al-Amir
Risalah fi al-Kalam ala al-Nafs al-Nathiyah
Al-mantiq al-Masyriqiyyin (logika timur)

Ibnu Sina juga mengemukakan pemikirannya tentang filsafat, antara lain:
1.Metafisika
2.Hukum Sebab Musabbab
3.Tuhan Maha Mengatur dan Maha Tahu
4.Akal
5.Emanasi
6.Jiwa
7.Teori Kenabian

Konsep Pendidikan Ibnu Sina adalah:
Sebagai suatu sistem, pendidikan memiliki berbagai aspek yang antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan, yaitu aspek tujuan pendidikan, kurikulum, metode guru, hukuman dan lingkungan.
1. Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Sina adalah mengarahkan pertumbuhan individu baik dari segi jasmani maupun rohaninya secara sempurna
2. Kurikulum         
Ibnu Sina melihat kurikulum lebih merupakan rancangan pengajaran, sebagai unsur terpenting dalam kurikulum itu sendiri. Rancangan pengajaran ini ia hubungkan dengan tingkat usia anak didik yang akan menerima pelajaran tersebut. Untuk ini Ibnu Sina membagi kurikulum kedalam tingkatan usia sebagai berikut:
                                1. Kurikulum Untuk Usia Anak 3 sampai 5 tahun.
                                2. Kurikulum Untuk Usia Anak 6 sampai 14 tahun.
     Kurikulum untuk anak usia 6 sampai 14 tahun atau usia sekolah dasar ini menurut Ibnu Sina terdiri dari:
                                 1) Pelajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an,
                                2)Pelajaran agama,          
                                3) Pelajaran bahasa Arab,           
                                4) Pelajaran sya’ir, dan
                                5) Pelajaran agama.
3. Kurikulum Untuk Anak Usia 14 tahun Ke Atas
4. Mata Pelajaran dalam Kurikulum
Metode Pengajaran
Ibnu Sina berpendapat bahwa suatu materi pelajaran tertentu tidak akan dapat dijelaskan kepada bermacam-macam anak didik dengan satu cara saja, melainkan harus dicapai dengan berbagai cara sesuai dengan perkembangan psikologisnya.
Metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain metode talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi magang, dan penugasan.
      
3. Konsep Guru.
4. Konsep Hukuman dalam Pengajaran
                                                               
                            V.            PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat,semoga dapat memberikan manfaat         kepada pembaca pada umumnya, dan dapat memberikan suatu pemahaman kepada pemakalah secara khususnya.Sekian dari kami apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam penulisan makalah ini,kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan. Dari kami minta maaf dan atas perhatian pembaca kami mengucapkan terima kasih.
                                



                                                              Daftar Pustaka                                          
Ali, Yunasril. Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
Daud, Rematan. Pengantar Filsafat Islam. Banda Aceh: Percetakan Offset Banna Coy, 1982/1983.
Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jogjakarta: Lkis, 1998.
Nasution, Harun. Falsafah dan Mistisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam. Jakarta Timur: Gaya Media Pratama, 1999.
Sudarsono. Falsafat Islam. Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2004.
(Diakses pada tanggal 31 mei 2015 pukul 14.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukul 07.00)        


[1] Rematan Daud , Pengantar Filsafat Islam  ( Banda Aceh:Percetakan Offset Banna Coy,1982/1983 ),  hlm. 70
[2] Sudarsono, Filsafat Islam (Jakarta: PT.Rineka Cipta,2004),  hlm. 42          
[3] Ibid.hlm. 42                                   
[4] Ibid.hlm. 42
[5] Ibid.hlm. 42
[6] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisme dalam Islam  (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 34
[7] Daud Rematan, Pengantar Filsafat Islam  ( Banda Aceh:Percetakan Offset Banna Coy, 1982/1983),  hlm. 7 
[8] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta Timur: Gaya Media Pratama, 1999), hlm.68
[9] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam   ( Jogjakarta: LKis, 1998),  hlm. 52
[10] Ibid.hlm. 52
[11] Ibid.hlm. 52
[12] Ibid.hlm. 52
[13] Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam  (Jakarta: Bumi Aksara, 1991),  hlm. 66
[14] Ibid.hlm. 66
[15] Ibid.hlm. 66
[16] Ibid.hlm. 66
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)