Pemikiran
Tokoh Ibnu Sina
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Filsafat
Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Mahfud Junaidi, M.Ag
Disusun
Oleh :
Nama :
R.A Elok Husna Irfaniya
NIM
: 1403036085
Jurusan:Manajemen Pendidikan Islam 2C
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I.
PENDAHULUAN
Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan,
sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik, sedang diantara para filosof muslim ia
tidak hanya unik, tetapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga
masa modern. Ia adalah
satu-satunya filosof besar islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat
yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi
filsafat muslim beberapa abad.
Pengaruh
ini terwujud bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi karena sistem yang
ia miliki itu menampakkan keasliannya yang menunjukkan jenis jiwa yang jenius
dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk
merumuskan kembali rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia
warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam.
II.
RUMUSAN MASALAH
1.
Siapakah
Ibnu Sina ?
2.
Apa saja
karya-karya yang dihasilkan oleh Ibnu Sina?
3.
Apa
saja pemikiran filsafat yang dikemukakan oleh Ibnu Sina?
4.
Apa
saja konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Ibnu Sina?
III.
PEMBAHASAN
A.
Biografi Ibnu Sina(370-428 H=980-1036 M)
Nama
lengkapnya Abu ‘Ali Al Husein bin Abdullah bin Al-Hasan bin ‘bin Sina. Ia
dilahirkan di desa Afsyanah, dekat Bukhara tahun 370 H(980 M). Ayahnya berasal
dari kota Balakh kemudian pindah ke Bukhara pada masa Raja Nuh bin Manshur.
Ayahnya diangkat Raja Nuh bin Manshur menjadi penguasa kota Khairmaitsan, satu
kota dari daerah Bukhara. Di sini ia kawin dengan seorang wanita yang tidak
berapa jauh dari kota Khairmaitsan yang bernama Sattarah dan mendapat anak 3
orang yaitu: Ali, Husein dan Muhammad, berarti Ibnu Sina anak kedua. Ibnu Sina
seorang pintar yang sulit dicari imbangannya. Sejak kecilnya telah menonjol
kepintarannya. Di antaranya ia telah hafal Al-Qur’an dalam usia dibawah 10
tahun.[1]
Ibnu
Sina mempelajari beberapa bidang ilmu pengetahuan, antara lain[2]:
1. Ilmu-ilmu Agama
Dimulainya
belajar Al-Qur’an pada tahun 375 H, sewaktu umur 5 tahun. Kemudian terus
mempelajari ilmu-ilmu islam yang lainnya seperti tafsir, fiqih, ushuluddin,
tasawuf dan lainnya.[3]
2. Ilmu-ilmu filsafat
Setelah
umurnya mencapai 10 tahun dia sudah menguasai ilmu-ilmu agama, ayahnya mulai
menyuruh belajar ilmu filsafah dengan segala cabangnya. Dia di suruh belajar
kepada saudagar rempah-rempah untuk mempelajari ilmu hitung india.[4]
3. Ilmu Politik
Tidak
kurang pentingnya untuk diketahui, bahwa ilmu politik sudah diperkenankan
kepada Ibnu Sina pada umur mudanya. Ayahnya adalah tokoh terkemuka dari aliran
“Isma’iliyah” dari partai syi’ah. Pada waktu itu pemimpin propogandis aliran
tersebut yang berpusat di Mesir di bawah pimpinan Fathimiyah, sering kali
berkunjung dan berunding dengan ayahnya, untuk meluaskan sayap partai itu ke
daerah Bukhara. Ibnu Sina selalu disuruh duduk mendengarkan segala uraian
politik mereka. Saudaranya Abdul harist mengikuti aliran ayahnya, menjadi
pengikut yang setia dari partai isma’iliyyah, tetapi Ibnu Sina tidak pernah
tertarik dengan aliran itu. [5]
4. Ilmu Kedokteran
Di
dalam tingkat terakhir, Ibnu Sina tertarik pada ilmu kedokteran. Dia
mempelajari ilmu itu sewaktu umurnya 16 tahun, dan dalam waktu 18
bulan(satu setengah tahun)selesailah
ilmu itu ia kuasainya. Sewaktu berumur 17 tahun ia telah di kenal sebagai
dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati pangeran Nuh ibn Mansur
sehingga pilih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibnu Sina mendapat sambutan
baik sekali, dan dapat pula mengunjungi perpustakaan yang penuh dengan
buku-buku yang sukar didapat, kemudian dibacanya dengan segala keasyikan.
Karena seseuatu hal, perpustakaan tersebut terbakar, maka tuduhan orang
ditimpakan kepadanya, bahwa ia sengaja membakarnya, agara orang lain tidak bias
lagi mengambil manfaat dari perpustakaan itu.[6]
Di
antara failosuf Arab yang termasyhur di
Barat ialah Ibnu Sina mereka menamakannya dengan Avicenna, dan disebut mereka
juga dengan “Aristoteles Baru”. Beliau menjadi guru filsafat medisin di
Isfahan(persi). Pada akhir hayatnya ia berangkat ke Ashafan,kemudian
meninggal di Hamadzan pada tahun 428 H (1037 M), dalam usia 57 tahun.[7]
B. Karya-karya Ibnu Sina
Pada usia 20 tahun ia telah menghasilkan karya-karya
cemerlang, dan tidak heran kalau ia menghasilkan 267 karangan di antara
karangannya yang terpenting adalah[8]:
Al-Syifa’, latinnya Sanatio (penyembuhan), ensiklopedi yang terdiri dari 18 jilid
mengenai fisika, metafisika dan matematika. Kitab ini ditulis ketika
menjadiMentri di Syams al-Daulah dan selesai masa ala’ul al-Daulah di Isfahan.
Al-Najah, latinnya Salus (penyelamat) , keringkasan dari As-Syifa’.
Al-
Al-Qonun fi al-tibb, Ensiklopedi
medis dan setelah diterjemahkan dalam bahasa Latin menjadi buku pedoman pada
Universitas-universitas di Eropa sampa abad XVII.
Isyaroh
wa al-tanbiyhah (isyarat dan
peringatan), mengenai logika dan hikmah.
Al-Hikmah al-‘Arudhiyyah.
Hidayah al-Rais li
al-Amir.
Risalah fi al-Kalam ala al-Nafs al-Nathiyah.
Al-mantiq al-Masyriqiyyin (logika timur).
C. Pemikiran Filsafat Ibnu
Sina
1. Metafisika
Pemikiran metafisika
Ibnu Sina bertitik tolak pada pandangan filsafatnya yang terbagi tiga jenis,
Yaitu
a. Penting dalam dirinya
sendiri, tidak perlu kepada sebab lain untuk kejadiannya, selain dirinya
sendiri yaitu Tuhan.
b. Berkehendak kepada orang
lain, yaitu mahluk yang butuh kepada yang menjadikannya.
c. Mahluk mungkin, yaitu bisa
ada bisa pula tidak ada dan ia sendiri tidak butuh kepada kejadiannya maksudnya
benda-benda yang tidak berakal seperti air, batu , api dan lain-lain.[9]
2. Hukum Sebab Musabbab
Tuhan adalah sebab
efesien dari alam, tidak perlu didahului oleh waktu. Dengan kata lain Ibnu Sina
memandang antara sebab dan akibat, walaupun bagaimana sebab itu, datang juga
dari sebab. Tuhan sebagai sebab, bertindak dalam alam yang bergerak terus
menerus dalam wujudnya, yang adalah sebagai sebab dirinya sendiri tau
dibutuhkan oleh yang lain.[10]
3. Tuhan Maha Mengatur dan
Maha Tahu
Devinisi tetntang
Tuhan yang Maha Tahu diterangkan Ibnu Sina dalam kitabnya Al-Isyarat sebagai
berikut: “Maha Tahu adalah perwakilan dalam alam semesta, dalam pengetahuan
abadi dalam suatu waktu tertentu”. Undang pelimpahan Tuhan dalam bentuk hirarki dan kekhususan adalah dengan
pelimpahan rasionil. Keterangan yang berupa undang alam seperti tersebut di
atas menyebabkan orang dapat melihat bagaimana Ibnu Sina menguraikan tentang
sifat maha Tuhan dan mengenai baik dan buruk. Tampaknya dalam bentuk yang
demikian itu, orang akan merasa psimis, dan memberikan uraiannya bahwa antara
baik dan buruk, baiklah yang akan menang. Oleh karena itu ia menyempurnakan
wujudnya.[11]
4. Akal
Ibnu Sina merumuskan bahwa
akal merupakan suatu kekuatan yang terdapat dalam jiwa. Menurut Ibnu Sina ada
dua macam akal yaitu akal manusia dan akal aktif. Semua pemikiran yang muncul
dari manusia itu sendiri untuk mencari kebenaran disebut akal manusia yang
medatang kedalam akal manusia dari limpahan ilham ketuhanan.[12]
5. Emanasi
Sebagaimana Al-Farabi,
Ibnu Sina juga menganut teori faidh (emanasi). Bagi Ibnu Sina, Tuhan sebagai
akal murni memancarkan akal pertama. Ta’aqqul akal pertama memancarkan akal
kedua, falakul aqsha (langit menjauh) dan jiwa falaq tersebut selanjutnya
ta’aqqul akal kedua memancarkan akal pertama, falakuts tsawabit dan jiwanya.
Demikian ta’aqqul dari akal-akal itu secara berkesinambungan hingga sampai pada
akal yang kesepuluh dan bumi. Dari akal kesepuluh yng disebut akal fa’al.
Tetapi ia mempunyai perbedaan-perbedaan yang prinsipil.[13]
6. Jiwa
Di dalam masalah kejiwaan,
Ibnu Sina termasuk penganut paham dualisme(tsanawiyah). Bagi Ibnu Sina subtansi
jiwa itu berlainan sama sekali dari materi tubuh meskipun dia berasal dari
pokok yang sama. Yakni akal fa’al. Tetapi ia mempunyai perbedaan-perbedaan yang
prinsipil.[14]
7. Teori Kenabian
Sebagaimana yang
tertulis diatas, bahwa akal itu bertingkat-tingkat. Tingkat pertama ialah akal
potensial. Kadang-kadang seorang manuasia diberi kadar akal potensial yang
besar sehingga itu ia dapat secara langsung berhubungan dengan akal fa’al tanpa
melalui latihan-latihan. [15]
Akal mempunyai kemampuan demikian oleh Ibnu Sina disebut
dengan akal kudus (roh suci)yang merupakan taraf tertinggi yang dapat dicapai
oleh seseorang. Bila taraf ini bisa dicapai oleh seseorang, Bila taraf ini
telah bisa dicapai oleh seseorang, terbukalah baginya ilmu rabbani.[16]
D. Konsep Pendidikan Menurut
Ibnu Sina
Konsep
Pendidikan Ibnu Sina adalah:
Sebagai suatu
sistem, pendidikan memiliki berbagai aspek yang antara satu dengan yang lainnya
saling berkaitan, yaitu aspek tujuan pendidikan, kurikulum, metode guru,
hukuman dan lingkungan. Pada bagian ini akan dikemukakan konsep pendidikan Ibnu
Sina yang ruang lingkupnya dibatasi pada aspek
tujuan pendidikan, kurikulum, guru yang baik, metode pengajaran, dan
pelaksanaan pada aspek-aspek tersebut, didasarkan pada pemikiran pendidikan
yang terdapat pada Ibnu Sina itu sendiri.[17]
Tujuan
Pendidikan Menurut Ibnu Sina
tujuan
pendidikan adalah mengarahkan pertumbuhan individu baik dari segi jasmani
maupun rohaninya secara sempurna. Selain itu, menurutnya bahwa pendidikan juga
bertujuan mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat dan
berinteraksi dengannya melalui pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya. Untuk
itu lingkup kependidikan dalam pandangan Ibnu Sina meliputi bidang pembinaan,
jasmani melalui olah raga, melatih makan, minum dan sebagainya secara teratur
dan menjaga. Dan rohani dengan kata lain tujuannya lebih mengarah kepada
mencerdaskan akal serta semua unsur yang terkait di dalamnya.[18]
Kurikulum
Ibnu Sina
melihat kurikulum lebih merupakan rancangan pengajaran, sebagai unsur
terpenting dalam kurikulum itu sendiri. Rancangan pengajaran ini ia hubungkan
dengan tingkat usia anak didik yang akan menerima pelajaran tersebut. Untuk ini
Ibnu Sina membagi kurikulum kedalam tingkatan usia sebagai berikut:[19]
1. Kurikulum
Untuk Usia Anak 3 sampai 5 tahun
Ibnu Sina
berpendapat bahwa seorang anak yang berada dalam usia 3 sampai 5 tahun harus
diajarkan ilmu-ilmu yang sejalan dengan pertumbuhan panca indra, gerak badan,
budi pekerti dan perasaan. Pelajaran gerak badan atau olah raga tersebut
diarahkan untuk membina pertumbuhan fisiknya, sedangkan pendidikan budi pekerti
diarahkan untuk membiasakan si anak agar memiliki sopan santun dalam pergaulan
hidupnya sehari-hari.[20]
2. Kurikulum
Untuk Usia Anak 6 sampai 14 tahun.
Kurikulum untuk
anak usia 6 sampai 14 tahun atau usia sekolah dasar ini menurut Ibnu Sina
terdiri dari:
1) Pelajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an,
2) Pelajaran
agama,
3) Pelajaran
bahasa Arab,
4) Pelajaran
sya’ir, dan
5) Pelajaran
agama.[21]
3. Kurikulum
Untuk Anak Usia 14 tahun Ke Atas
Berkenaan
dengan kurikulum untuk anak usia 14 tahun ke atas ini, Ibnu Sina mengatakan
sebagai berikut:
“Jika seorang
anak telah selesai mempelajari Al-Qur’an dan menghafal dasar-dasar bahasa, maka
segera dipikirkan tertang keahlian yang akan ditekuninya. Guru menunjukan pula
cara untuk menempuh keahlian tersebut, setelah mempertimbangkan dengan matang
tentang keahlian yang sesuai dengan bakal minatnya”[22]
4. Mata
Pelajaran dalam Kurikulum
Ibnu Sina selanjutnya membagi
pelajaran kepada yang bersifat teoritis dan pelajaran yang bersifat praktis
atau pengetahuan terapan.
a. Mata Pelajaran
Yang Bersifat Teoritis
Menurut Ibnu
Sina mata pelajaran yang bersifat teoritis dapat di bagi tiga lagi yaitu:
1) Ilmu tabi’i yang dikatagorikan
sebagai ilmu yang berada pada urutan yang di bawah.
2) Ilmu
matematika yang ditempatkan pada urutan pertengahan
3) Ilmu
ketuhanan yang ditempatkan sebagai urutan yang paling tinggi[23]
b. Mata
Pelajaran yang Bersifat Praktis
Mata pelajaran yang bersifat praktis itu
terbagi kepada tiga bagian.
Bagian pertama
terdiri dari ilmu yang bertujuan membentuk akhlak dan perbuatan manusia yang
mulia, sehingga dapat mengantarkan kepada kebahagiaannya hidup di dunia dan akhirat.[24]
Bagian kedua
terdiri dari ilmu yang berupaya menjelaskan tentang tata cara mengatur
kehidupan rumah tangga serta pola hubungan yang baik antara suami istri, orang
tua dengan anak-anaknya, majikan dengan para pembantunya. [25]
Bagian ketiga
ilmu yang mempelajari tentang politik, pimpinan, negara dan masyarakat yang
utama atau sebaliknya.[26]
Metode
Pengajaran
Konsep metode
yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain terlihat pada setiap materi pelajaran.
Dalam setiap pembahasan materi pelajaran Ibnu Sina selalu membicarakan tentang
cara mengajarkan kepada anak didik. Berdasarkan pertimbangan psikologinya, Ibnu
Sina berpendapat bahwa suatu materi pelajaran tertentu tidak akan dapat
dijelaskan kepada bermacam-macam anak didik dengan satu cara saja, melainkan
harus dicapai dengan berbagai cara sesuai dengan perkembangan psikologisnya.[27]
Penyampaian
materi pelajaran pada anak menurutnya harus disesuaikan dengan sifat dari
materi pelajaran tersebut, sehingga antara metode dengan materi yang diajarkan
tidak akan kehilangan daya relevansinya. Metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu
Sina antara lain metode talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi
magang, dan penugasan.[28]
Yang dimaksud
dengan metode talqin dalam cara kerjanya digunakan untuk mengajarkan
membaca al-qur’an, dimulai dengan cara memperdengerkan bacaan al-qur’an kepada
anak didik sebagian demi sebagian. Setelah itu anak tersebut disuruh
mendengarkan dan disuruh mengulangi bacaan tersebut perlahan-lahan dan
dilakukan berulang-ulang hingga hafal. Cara seperti ini dalam ilmu pendidikan
modern dikenal dengan nama tutor sebaya, sebagaimana dikenal dalam pengajaran
dengan modul.[29]
Selanjutnya
mengenai metode demontrasi menurut Ibnu Sina dapat digunakan dalam cara
mengajar menulis. Menurutnya jika seorang guru akan mempergunakan metode
tersebut, maka terlebih dahulu ia mencontohkan tulisan huruf hijaiyah di
hadapan murid-muriodnya. Setelah itu barulah menyuruh para murid untuk
mendengarkan ucapan huruf-huruf hijaiyyah sesuai dengan makhrajnya dan
dilanjutkan dengan mendemonstrasikan cara menulisnya.[30]
Berkenaan
dengan metode pembiasaan dan teladan, Ibnu Sina mengatakan bahwa
pembiasaan adalah termasuk salah satu metode pengajaran yang paling efektif,
khususnya dalam mengajarkan akhlak. Cara tersebut secara umum dilakukan dengan
pembiasaan dan teladan yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa si anak,
sebagaimana hal ini telah disinggung pada uraian diatas.[31]
Selanjutnya metode
diskusi dapat dilakukan dengan cara penyajian pelajaran dimana siswa
dihadapkan pada suatu masalah yang dapat berupa pertanyaan yang bersifat
problematic untuk dibahas dan dipecahkan bersama.[32]
Berkenaan
dengan metode magang, Ibnu Sina telah menggunakan metode ini dalam
kegiatan pengajaran yang dilakukannya. Para murid Ibnu Sina yang mempelajari
ilmu kedokteran dianjurkan agar menggabungkan teori dan praktek. Yaitu satu
hari diruang kelas untuk mempelajari teori dan hari berikutnya mempraktekan
teori tersebut dirumah sakit atau balai kesehatan.[33]
Selanjutnya
berkenaan dengan metode penugasan adalah cara penyajian bahan pelajaran
dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.
Dalam bahasa arab pengajaran dengan penugasan ini dikenal dnegan istilah
at-ta’iim bi al-marasil ( pengajaran dengan mengirimkan sejumlah naskah atau
modul ).[34]
Dalam
keseluruhan uraian mengenai metode pengajaran tersebut diatas terdapat empat ciri
penting, yakni:[35]
1.
uraian
tentang berbagai metode tersebut memperlihatkan adanya keinginan yang besar
dari ibnu sina terhadap keberhasilan pengajaran.
2.
setiap
metode yang ditawarkannya selalu dilihat dalam presfektif kesesuaiannya dengan
bidang studi yang diajarkannya serta tingkat usia peserta didik.
3.
metode
pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina juga selalu memperhatikan minat dan bakat
si anak didik.
4.
metode
yang ditawarkan ibnu Sina telah mencakup pengajaran yang menyeluruh mulai dari
tingkat taman kanak-kanak sampai dengan tingka perguruan tinggi.
Ciri-ciri
metode tersebut hingga sekarang masih banyak digunakan dalam kegiatan belajar
mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu Sina dalam bidang metode
pengajaran masih relevan dengan tuntutan zaman.[36]
Konsep Guru.
Konsep guru
yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain berkisar tentang guru yang baik. Dalam
hubungan ini Ibnu Sina mengatakan bahwa guru yang baik adalah berakal cerdas,
beragama, mengetahui cara mendidik akh;ak, cakap dalam mendidik anak,
berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main dihadapan muridnya,
tidak bermuka masam, sopan santun, dan suci murni.[37]
Lebih lanjut
Ibnu Sina menambahkan bahwa seorang guru itu sebaiknya darikaum pria yang terhormat
dan menonjol budi pekertinya, cerdas, teliti, sabar, telaten dalam membingbing
anak-anak, adil, hemat dalam penggunaan waktu, gemar bergaul dengan anak-anak
dll.[38]
Berkenaan
dengan tugas pendidikan, maka tugas seorang guru tidaklah mudah. Sebab pada
hakekatnya tugas pendidikan yang utama adalah membentuk perkembangan anak dan
membiasakan kebiasaan yang baik dan sifat-sifat yang baik menjadi faktor utama
guna mencapai kebahagiaan anak, oleh karena itu orang yang ditiru hendaklah
menjadi pemimpin yang baik, contoh yang bagus dan berakhlak hingga tidak
meninggalkan kesan buruk dalam jiwa anak yang menirunya.[39]
Jika diamati
secara seksama, tampak bahwa potret guru yang dikehendaki Ibnu Sina adalah guru
yang lebih lengkap dari potret guru yang dikemukakan para ahli sebelumnya.
Dalam pendapatnya itu Ibnu Sina selain menekankan unsur kompetensi atau
kecakapan dalam mengajar, juga berkepribadian yang baik. Dengan kompetensi itu,
seorang guru akan dapat mencerdaskan anak didiknya dengan berbagai pengetahuan
yang diajarkannya, dan dengan akhlak ia dapat membina mental dan akhlak anak.[40]
Konsep Hukuman
dalam Pengajaran
Ibnu Sina pada
dasarnya tidak berkenan menggunakan hukuman dalam kegiatan pengajaran. Hal ini
didasarkan pada sikapnya yang sangat menghargai martabat manusia. Namun dalam
keadaan terpaksa hukumanm dapat dilakukan dengan cara yang amat hati-hati. Ibnu
Sina menyadari sepenuhnya, bahwa manusia memiliki naluri yang selalu ingin
disayang, tidak suka diperlakukan kasar dan lebih suka diperlakukan halus. Atas
dasar pandangan kemanusiaan inilah maka Ibnu Sina sangat membatasi pelaksanaan
hukuman.[41]
Penggunaan-penggunaan
bantuan tangan adalah pembantu paling diandalkan dan merupakan seni bagi
seorang pendidik. Dengan ada control secara terus-menerus, maka mendidik anak
dapat diawasi dan diarahkan sesuai dengan tujuan pendidikan.[42]
Ibnu Sina
membolehkan pelaksanaan hukuman dengan cara yang ekstra hati-hati, dan hal itu
hanya boleh dilakukan dalam keadaan terpaksa atau tidak normal. Sedangkan dalam
keadaan normal, hukuman tidak boleh dilakukan. Sikap humanistic ini sangat
sejalan dengan alam demokrasi yang menuntut keadilan, kemanusiaan,
kesederajatan, dan sebagainya.[43]
IV.
KESIMPULAN
Ibnu Sina
mempunyai Nama lengkap yaitu Abu ‘Ali Al Husein bin Abdullah bin Al-Hasan bin
‘bin Sina. Ia dilahirkan di desa Afsyanah, dekat Bukhara tahun 370 H(980 M). Di
antara failosuf Arab yang termasyhur di
Barat ialah Ibnu Sina mereka menamakannya dengan Avicenna, dan disebut mereka
juga dengan “Aristoteles Baru”. Beliau menjadi guru filsafat medisin di
Isfahan(persi).
Diantara karya dari Ibnu Sina yang terpenting adalah
Al-Syifa’, latinnya Sanatio (penyembuhan), ensiklopedi yang terdiri dari 18 jilid
mengenai fisika, metafisika dan matematika. Kitab ini ditulis ketika
menjadiMentri di Syams al-Daulah dan selesai masa ala’ul al-Daulah di Isfahan.
Al-Najah, latinnya Salus (penyelamat) , keringkasan dari As-Syifa’.
Al-Isyaroh
wa al-tanbiyhah (isyarat dan peringatan),
mengenai logika dan hikmah.
Al-Qonun fi
al-tibb, Ensiklopedi medis dan setelah diterjemahkan dalam
bahasa Latin menjadi buku pedoman pada Universitas-universitas di Eropa sampa
abad XVII
Al-Hikmah
al-‘Arudhiyyah
Hidayah
al-Rais li al-Amir
Risalah fi
al-Kalam ala al-Nafs al-Nathiyah
Al-mantiq
al-Masyriqiyyin (logika timur)
Ibnu Sina
juga mengemukakan pemikirannya tentang filsafat, antara lain:
1.Metafisika
2.Hukum Sebab Musabbab
3.Tuhan Maha Mengatur dan Maha Tahu
4.Akal
5.Emanasi
6.Jiwa
7.Teori
Kenabian
Konsep
Pendidikan Ibnu Sina adalah:
Sebagai
suatu sistem, pendidikan memiliki berbagai aspek yang antara satu dengan yang
lainnya saling berkaitan, yaitu aspek tujuan pendidikan, kurikulum, metode
guru, hukuman dan lingkungan.
1. Tujuan
Pendidikan Menurut Ibnu Sina adalah mengarahkan pertumbuhan individu baik dari
segi jasmani maupun rohaninya secara sempurna
2. Kurikulum
Ibnu Sina
melihat kurikulum lebih merupakan rancangan pengajaran, sebagai unsur
terpenting dalam kurikulum itu sendiri. Rancangan pengajaran ini ia hubungkan
dengan tingkat usia anak didik yang akan menerima pelajaran tersebut. Untuk ini
Ibnu Sina membagi kurikulum kedalam tingkatan usia sebagai berikut:
1. Kurikulum
Untuk Usia Anak 3 sampai 5 tahun.
2. Kurikulum
Untuk Usia Anak 6 sampai 14 tahun.
Kurikulum untuk anak usia 6 sampai 14 tahun
atau usia sekolah dasar ini menurut Ibnu Sina terdiri dari:
1) Pelajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an,
2)Pelajaran
agama,
3)
Pelajaran bahasa Arab,
4) Pelajaran
sya’ir, dan
5) Pelajaran
agama.
3. Kurikulum
Untuk Anak Usia 14 tahun Ke Atas
4. Mata
Pelajaran dalam Kurikulum
Metode
Pengajaran
Ibnu Sina
berpendapat bahwa suatu materi pelajaran tertentu tidak akan dapat dijelaskan
kepada bermacam-macam anak didik dengan satu cara saja, melainkan harus dicapai
dengan berbagai cara sesuai dengan perkembangan psikologisnya.
Metode
pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain metode talqin, demonstrasi,
pembiasaan dan teladan, diskusi magang, dan penugasan.
3. Konsep
Guru.
4. Konsep
Hukuman dalam Pengajaran
V.
PENUTUP
Demikian
makalah ini kami buat,semoga dapat memberikan manfaat kepada pembaca pada umumnya, dan dapat
memberikan suatu pemahaman kepada pemakalah secara khususnya.Sekian dari kami
apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam penulisan makalah ini,kritik dan
saran yang membangun sangat kami butuhkan. Dari kami minta maaf dan atas
perhatian pembaca kami mengucapkan terima kasih.
Daftar
Pustaka
Ali, Yunasril. Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam. Jakarta:
Bumi Aksara, 1991.
Daud, Rematan. Pengantar Filsafat Islam. Banda Aceh: Percetakan
Offset Banna Coy, 1982/1983.
Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jogjakarta: Lkis, 1998.
Nasution, Harun. Falsafah dan Mistisme dalam Islam. Jakarta: Bulan
Bintang, 1992.
Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam. Jakarta Timur: Gaya Media
Pratama, 1999.
Sudarsono. Falsafat Islam. Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2004.
(Diakses pada tanggal 31 mei 2015 pukul 14.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukul 07.00)
[1] Rematan Daud ,
Pengantar Filsafat Islam ( Banda
Aceh:Percetakan Offset Banna Coy,1982/1983 ), hlm. 70
[2] Sudarsono, Filsafat
Islam (Jakarta: PT.Rineka Cipta,2004), hlm. 42
[4]
Ibid.hlm. 42
[5]
Ibid.hlm. 42
[6]
Harun Nasution, Falsafah dan Mistisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 34
[7]
Daud Rematan, Pengantar Filsafat Islam ( Banda Aceh:Percetakan Offset Banna Coy,
1982/1983), hlm. 7
[8]
Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta Timur: Gaya Media Pratama, 1999),
hlm.68
[10]
Ibid.hlm. 52
[11]
Ibid.hlm. 52
[12]
Ibid.hlm. 52
[14]
Ibid.hlm. 66
[15]
Ibid.hlm. 66
[16]
Ibid.hlm. 66
(Diakses pada tanggal 31 mei pukul 14.00)
(Diakses pada tanggal 31 mei pukul 14.00)
(Diakses pada tanggal 31 mei pukul 14.00)
(Diakses pada tanggal 31 mei pukul 14.00)
(Diakses pada tanggal 31 mei pukul 14.00)
(Diakses pada tanggal 31 mei pukul 14.00)
(Diakses pada tanggal 31 mei pukul 14.00)
(Diakses pada tanggal 31 mei pukul 14.00)
(Diakses pada tanggal 31 mei pukul 14.00)
[26]
http://pkuulilalbab-uika.blogspot.com/2013/03/pemikiran-pendidikan-ibnu-sina-oleh.html
(Diakses pada tanggal 31 mei pukul 14.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
(diakses pada
tanggal 1 juni 2015 pukull 07.00)
Casino.com - Casinos Near Me | MapYRO
BalasHapusFind 충주 출장안마 the 강릉 출장안마 best 화성 출장마사지 Casino.com locations, rates, amenities, & reviews for Casino.com in St. 아산 출장샵 Louis, MO. 목포 출장샵